#NulisRandom2017| Hari ke-3, Aneh-Pertemuan yang tidak disengaja 24 Mei 2017

Hosting Unlimited Indonesia

Revisi 5 Juni 2017

Cerita ini terselip diantara sela-sela waktu Bimbingan Revisi Seminar Proposal Skripsi. Saya bertemu lagi dengan salah seorang adik kelas yang sempat sengaja saya putus komunikasi. Saat itu saya marah atas sikapnya yang kadang aneh dan menurut saya sudah keterlaluan. Beberapa waktu belakangan suasana kembali cair. Saya memaafkan dan kembali membuka akses komunikasi dengannya. Meski tanpa ada kata maaf.

Skip, cerita pertemuan hari itu. Setelah beberapa kali dia hanya lewat begitu saja di depan saya. Dia kemudian menegur saya dan kami mengobrol sejenak saat saya akan sholat dzuhur. Suaranya lembut, dan senyumnya manis. Dia menanyakan maksud dan tujuan saya di hari itu. Saya jawab saja seadanya. Kami mengobrol sambil kemudian dia berdiri untuk berpindah tempat duduk. Kemudian saya melanjutkan aktivitas bersama teman-teman saya.

Tiba waktunya pulang. Sial. Saya pulang tanpa pamit. Dia sedang duduk-duduk di kursi saat saya keluar ruangan, selesai bimbingan. Saya tidak tahu mengapa dia masih disitu. Sebenarnya saya ingin menegurnya tapi saya rasa lebih baik itu tidak saya lakukan. Saya malu, takut di abaikan dan merasa aneh kalau itu saya lakukan. Tanpa bertegur sapa saya langsung mengambil sepatu saya yang saya lepas di depan pintu, memakainya, kemudian saya pergi berlalu begitu saja. Saya punya alasan atas itu. Saya ingin membalas yang pernah ia lakukan dulu.

Sampai kapan saya akan mengabaikannya? Entahlah. Saya aneh. Saya ingin bersikap normal seperti halnya kakak tingkat lain. Tapi saya tidak bisa. Bukan tidak ingin, tapi saat saya mencoba bersikap normal seperti biasa yang ada malah saya tecugak atau terabaikan. Dia pernah pergi berlalu tanpa pamit, padahal saat itu saya tepat duduk disebelahnya. Tepat setelah dia meminjam sebuah buku milik saya. Temannya pamit pada saya dan dia tidak. Normalkah sikapnya yang demikian. Menurut saya aneh. Kurang ajar begitulah tepatnya. Entahlah, rasanya tidak ada adik kelas saya sekurang ajar dia.

Mungkin kami tidak cocok. Sepertinya yang dia mau bukanlah teman. Bukan kakak tingkat yang akrab. Dia terbiasa dengan pola hidup pacaran. Dan sepertinya ingin selalu dikejar-kejar. Andai saja dia tidak pernah menjadi pacar orang lain. Mungkin sikap saya tidak akan menjadi aneh. Atau sikap saya yang anehlah yang jadi sebab dia memilih orang lain. Entahlah. Setelah dia punya pacar lagi, saya merasa berada di koridor yang benar saat tidak berada dekat-dekat dengannya. Saya menjaga jarak. Menghindari perselisihan. Dia butuh pacar. Sementara saya tidak.

Saya hanya ingin menjadi teman yang baik, jadi kakak kelas yang baik. Baik bagi laki-laki dan perempuan. Saat ini(setelah bertemu dengan seseorang saat SMA) akhirnya saya bisa menerima kehadiran perempuan sebagai teman. Beberapa bahkan terbilang dekat. Selama janur kuning belum melengkung masih bebas milik bersama, begitulah kata orang tua saya(emak). Oke mari kita berteman. Tidak perlu berlaku aneh kalau memang teman. Tidak perlu juga berbohong untuk jaga perasaan. Saya bisa terima karena memang kita hanya teman. Asal tidak berbohong.

Bagi saya sikapnya yang anehlah yang mungkin akan membuat saya kelak memilih orang lain untuk menjadi pendamping saya. Menurutnya mungkin justru saya yang aneh. Tidak normal atau apalah. Terserah. Aneh karena saya tidak suka dekat-dekat. Aneh saat saya tidak berusaha lebih mendekat saat posisi saya berada di tempat yang sama dengannya. Tidak seperti cowok lain yang kebanyakan suka menempeli cewek. Matanya yang sesekali menoleh ke arah saya buktinya. Dia seperti ingin saya mendekat ke tempat ia berada. Tapi saya diam di tempat. Tidak berani mendekat. Mata saya sesekali menoleh ke arahnya. Bertanya dalam hati mengapa dia memilih tempat duduk jauh dari saya meski tujuan kami kadang-kadang sama?. Tentu dia kenal saya. Saya tidak keberatan jika dia duduk disebelah saya. Justru senang. Tapi dia selalu memilih tempat lain. Seolah tidak kenal. Namun ujungnya minta bantuan saya. Ini aneh menurut saya. Ya sudah saya fokus dengan urusan saya saja.

Saya tidak ingin berpindah tempat. Saya sudah duluan duduk. Posisi saya lebih dekat dengan ruangan yang ingin saya tuju. Jadi menurut saya kalau saya pindah tempat duduk dekat-dekat dengannya. Itu malah jadi aneh menurut saya. Jadi ya terserah dia saja. Dia bertanya, saya menjawab. Begitu saja seperti yang lainnya.

Kadang saya bingung sendiri. Apa yang aneh dari sikap saya. Saya bisa saja ramah, bercengkrama dll. Tapi saya tidak ingin melakukannya. Karena, saat hal itu saya lakukan malah saya diabaikan. Di cugaki, dicuekin atau di kacangin. Aneh kan. Mungkin karena saya saja yang tidak mengerti tentang perempuan. Apalagi tentang apa yang mereka inginkan. Saya butuh hal yang lebih jelas daripada sebuah kode. Ya sudah jadi terserah dia saja. Saya akan bersikap seperti biasanya yang tidak suka dekat-dekat dengan perempuan. Kalau ditegur oleh perempuan ya oke. Saya jawab dan saya hampiri. Hanya sebatas itu. Lebih baik saya cuek duluan nanti dia juga yang menegur saya bila butuh.

Saya tidak suka diabaikan atau dicuekin jadi lebih baik saya yang lebih dahulu mengabaikan daripada diabaikan. Saya hanya akan ramah kepada orang yang ramah dan cuek terhadap orang yang cuek. Saya masih dalam proses belajar caranya bersikap lemah lembut kepada orang lain.

Mungkin kalian berpandangan bahwa saya tidak normal. Masak iya laki-laki mengabaikan perempuan. Masak iya perempuan yang musti memulai obrolan. Saya juga laki-laki normal kok. Justru karena saya normal saya tidak terlalu suka dekat-dekat perempuan. Saya ingin membebaskan perempuan. Biarlah ada jarak. Hubungan pacaran itu merugikan perempuan. Saat laki-laki masih bisa dekat dengan si ini dan si itu. Perempuan malah cenderung tertahan oleh lelaki itu saja.

Saat saya siap lahir batin. Mempertanggungjawabkan hidup mati bersama si perempuan. Saat itulah saya akan mengambil salah seorang perempuan untuk saya jadikan pendamping hidup. Hal itu semakin terasa mustahil. Zaman sudah berubah, begitulah kata orang-orang. Mana mungkin jodoh datang tanpa dicari. Mana mungkin menikah tanpa pacaran.

Disisi lainnya saya tidak ingin kehilangan dia lagi. Tidak, setelah telah banyak kehilangan yang saya alami. Roda takdir tidak pernah bisa saya tebak. Komunikasi yang saya putus (blokir) tersambung kembali. Sepertinya saya suka, meski rasanya tidak sesuka itu. Bisa jadi ini hanyalah nafsu yang berujung pada sakit hati yang mungkin akan dia terima saat saya berjumpa dengan yang saya benar-benar suka. Tidak ada jaminan bila saya akan setia bila bersamanya. Cukup saya yang sakit. Saya tidak ingin dia sakit dengan saya sebagai penyebabnya.

*catatan: Revisi Sabtu, 19 Agustus 2017

#3 #NulisRandom2017 #RamadhanProduktif #Dekapunya

Silakan Berkomentar Menggunakan Facebook disini