Menjadi Didik Terbaik Ke-3 Jurusan IPS SMA Plus Negeri 2 Negeri 2 Banyuasin III @kampusfiksi #10DaysKF

Hosting Unlimited Indonesia

Hai guys. Jujur saya bingung bagaimana harus mengawali tulisan ini. Ini adalah bagian ke lima atau hari ke lima tari #KampusFiksi 10 Days Writing Challenge. Sangat sering sekali sebenarnya saya di remehkan. Terutama karena saya berasal dari keluarga biasa. Tapi orang tua saya ingin pendidikan terbaik bagi anak-anaknya. Saya dan saudara saya terpaksa harus sekolah di sekolah unggulan yang terkenal dengan “mahal”nya. Hal ini saya sebut terpaksa karena keputusan tersebut akhirnya diambil ayah saya setelah saudara kembar saya Deki tidak bisa ikut seleksi sekolah Satunya. Sebenarnya saya juga lulus seleksi di sekolah satunya. Tapi orang tua tidak ingin kami berpisah.
Teman saya pernah meremehkan saya. Ceritanya dulu saya memberitahukan kepada teman saya yang lainnya perihal apa saja yang perlu di persiapkan untuk masuk club olimpiade. Teman saya tersebut berkata “Ngp kamu kasih tau, mereka tuh lebih pintar dari kamu”. Mendengar itu ada sebenarnya saya ingin marah. Tapi tidak bisa. Fakta memang menyudutkan saya. Prestasi saya saat itu benar-benar tidak menjanjikan. Wajar saja Teman saya itu berkata demikian. Saya berusaha maksimal untuk memaklumi pendapatnya.

Hari itu 29 Mei 2012. Hari perpisahan kelas 12 tahun ajaran 2011-2012. Penting sekali bagi saya untuk mengingatnya. Itu adalah momen yang sangat menegangkan. Saat gladi sebenarnya sudah disebutkan secara jelas bahwa sayalah peraih didik terbaik ke-3. Tapi saya kaget sekaligus merasa diremehkan. Teman-teman menyebutkan nama-nama lain.
Mungkin mereka menganggap yang mereka dengar kemaren merupakan kesalahan. Mereka kaget bukan kepalang. Terkejut tidak percaya nama-nama yang mereka sebutkan ternyata meleset.
Saya tetap “mencoba” berpikir positif. Nama saya sebelumnya memang belum pernah terdengar. Belum pernah mereka mendengar sepak terjang saya terkait prestasi membanggakan. Belum pernah mereka mendengar bahwa saya adalah salah satu siswa yang punya pengaruh di kelas. Jadi wajar mereka tidak menjagokan saya. Wajar mereka meragukan saya.

Benar-benar diremehkan
Saya di anggap hanya beruntung saat ujian nasional. Saya di anggap “Hanya” Juara 3 UN. Itu lebih masuk akal menurut mereka. Tidak satu pun “juara” yang mereka sebutkan datang menghampiri saya dan memberi ucapan selamat.
Yang saya raih bukanlah hal yang masuk akal. Nilai saya bila yang lihat hanya nilai UN maka jauh lebih tinggi dari yang disebutkan. Karena yang disebutkan ternyata nilai akhir hasil seluruh penjumlahan. Dan mereka memandang hanya “Juara” 3UN kalau “Juara Umum” maka saya tidak masuk hitungan.

Teruslah meremehkan pada kenyataannya sayalah peraih peringkat 3 terbaik di Jurusan IPS tahun itu atau yang ketika itu disebut “Didik Terbaik”. Saya merasa pantas untuk itu. Saya belajar giat demi itu. Jadi saya sangat Kecewa karena sudah diremehkan.
Sebagai pembuktian saya langsung tancap gas. Lulus SNMPTN jadi pretasi terbesar saya tahun 2012. Sesuatu yang gagal diraih kebanyakan mereka yang meremehkan saya. Kemudian saya melengkapinya lagi dengan kembali lulus PTN. Lagi saya juga lulus SMBPT-AIN. Keduanya adalah jalur utama ketika tahun itu.
Begitulah cara saya ketika diremehkan maka yang perlu saya lakukan hanyalah membuktikan. Teman saya tersebut dan mereka seharusnya menarik kata-kata mereka. Tapi saya tidak pernah menuntut soal itu. Karena bagi saya Tong Kosong Memang Selalu Nyaring Bunyinya.
@kampusfiksi #10DaysKF

Silakan Berkomentar Menggunakan Facebook disini