Muka Lelah

Hosting Unlimited Indonesia


Muka lelah kulit makin menghitam abis menempuh perjalanan Balai-Palembang-Layo bukan buat bimbingan karena waktu dak sempat dan bahan malah acak-acakkan kelamaan nunggu kawan.
.
Tadi toke bicarakan soal beda antara saya dan Deki, menurutnya “yang kk (Deki) lebih putih”😄. Begitulah katanya.
.
Tapi dulu sekali. Dulu. Saya jadi teringat lagi dengan seseorang lain yang juga pernah membedakan kami lewat warna kulit, menurutnya “kk (saya) lebih putih” begitulah katanya.
.
Saya dan saudara saya memang terlahir berkulit agak putih untuk ukuran orang lokal. Turunan dari emak, yang entah kenapa adik kami yang cewek malah terlahir gelap. Setidaknya kata orang begitu. Seperti bukan anak emak kami.
.
Faktanya kami putih karena jarang keluar rumah. Dan terakhir kali pakai celana pendek saat SMP.
.
Saat awal kuliah Deki lebih hitam karena dia pulang jalan kaki saat matahari lagi panas-panasnya sementara saya kebanyakan pulang sore karena asyik berburu wifi hingga sore hari. Mungkin begitu sehingga deki dulu tampak lebih hitam.
.
Kini berubah sejak saya harus terbiasa bolak-balik Balai-palembang-layo dan semakin hitamlah saya.
.
Tapi itu sama sekali tidak penting. Apalah artinya warna kulit. Ada perbedaan yang lebih banyak antara Deka dan Deki. Bukan hanya soal fisik, warna kulit, dan tahi lalat yang dulunya tidak ada. Kami ini satu yang terbelah 2. Bukan mirroring apalagi cloning jadi pasti ada bedanya.
.
*cerita hari ini*
.
Hari ini saya pun ke layo lagi. Berharap yang saya cari datang. Ada janji dengan teman. Saya tempuh 4 cuaca sepanjang perjalanan. Panas berdebu, lembab, gerimis dan hujan.
.
Sambil nunggu saya edit lagi lembaran demi lembaran. Mencoba mendekati kesempurnaan. Setidaknya mungkin itu yang bisa saya lakukan. Rasanya masih jauh dari harapan. Jika bagiku saja itu tidak bagus apalagi bagi sang dosen.
.
Standar beliau terlalu tinggi. Sementara saya sudah terlalu banyak berpikir sebelum bimbingan. Yang saya pikir salah ternyata benar dan yang saya pikir benar malah salah.
.
Hasilnya. Sejauh ini masih belum klop. Seharusnya saya selesaikan saja sendiri sejak awal. Setelah selesai baru bimbingan. Tidak seperti itu cara saya berpikir. Saya malah kebanyakan fokus mikir ingin 2 arah. Saya butuh bimbingan. Saya butuh untuk mencari kata yang saya inginkan namun saya tidak tahu apalagi paham kata itu apa Sesuatu yang tidak mungkin bisa saya dapat tanpa bimbingan menyeluruh.
.
Jadi ya sudah yang terjadi adalah keterlambatan saya atas jadwal. Lagi.
.
Karena kamu tidak bisa membantuku maka janganlah menghalangiku. Kata puncak yang kupikirkan atas waktu yang tidak pernah bersesuaian.
.
Teman saya tidak kunjung datang. Kecewa, kecele karena sudah nunggu lama. Seharusnya langsung print saja pagi ini. Setidaknya mungkin dosen satunya ada. Dak perlu diedit lagi ujung-ujungnya pusing karena rasanya salah semua. Dan waktu yang semakin terbatas ini berakhir satu hari lagi tanpa bimbingan. Itu yang terpikirkan saat dipenghujung kesal.

#NulisOppoIki #AsalTulis #EntarNantiDiedit #Dekapunya

Silakan Berkomentar Menggunakan Facebook disini