#NulisRandom2017| Hari ke 21, Orang Lama

Hosting Unlimited Indonesia

Tulisan ini pernah saya kirimkan ke redaksi media cetak berupa surat kabar harian atau koran. saya tidak berlangganan media tersebut sehingga saya tidak tahu pasti apakah terbit ataukah tidak. yang pasti hari ini saya terbitkan lagi di website saya ini dengan tujuan karena tulisan ini masih berkaitan dengan tulisan saya yang kemarin.

Saya memang orang lama. Saat ini hubungan antara dua jenis manusia sudah benar-benar hampir tiada beda. Laki-laki dan perempuan jalan bersama sudah menjadi hal biasa. Justru aneh kalau laki-laki jalan berdua dengan sesama laki-laki. Kalau sekadar mengantar dari satu lokasi ke lokasi lainnya mungkin masih wajar. Wajar juga kalau memang sedang kebetulan satu arah. Tapi nyatanya ada saat dimana stop disini dan stop disitu. Itu yang jadi tidak wajar. Apalagi jika stopnya di semak-semak. Tambah tidak wajar.

Ada sesuatu yang selalu mengusik pikiran saya. Mungkinkah saya akan mendapatkan calon pendamping seorang perawan tulen. Melihat pergaulan zaman sekarang sepertinya wajar jika logika saya berkata. Mustahil. Apa benar masih ada perawan?. Mungkin jawabannya masih ada. Tapi coba saya ganti pertanyaannya. Apa benar masih ada perempuan berkulit halus, mulus yang tidak pernah tersentuh tangan-tangan kasar lelaki yang bukan muhrimnya?. Sepertinya (hampir) mustahil ada.

Saya mungkin bukan orang alim. Tapi tangan saya ini entah mengapa agak alim. Sentuhan yang wajar menurut saya hanya sebatas salaman. Itupun masih harus dihindari. Dengan tujuan menghormati si perempuan saya tentu akan menyambut bila ada perempuan yang menjulurkan tangan untuk bersalaman. Alasan saya tentu karena menolak rejeki juga tidak baik. Maka bila ada perempuan yang menjulurkan tangan rasanya tidak hormat bila kemudian dia terpaksa harus menarik tangannya kembali. Kebanyakan memang perempuan menjulurkan tangannya terlebih dahulu. Miris.

Ada pula perempuan yang menurut saya sok suci. Sok jual mahal ujungnya mau. Dengan orang asing yang belum dikenal seolah tidak mau disentuh tapi dengan sang pacar sembarangan. Kehormatannya ternyata hanya sebatas pancingan. Biar dikira Tidak gampangan. Nyatanya hanya sok jual mahal. Ternyata memang gampangan. Ketika sudah jadi pacar seolah seperti sudah sah. Di kamar berdua. Sudah biasa. Makan sepiring berdua. Biar mesra. Miris.

Bukan berarti berpasangan dengan sesama jenis itu boleh dan wajar. Sejak lahir Tuhan sudah menciptakan dua jenis kelamin. Laki-laki dan perempuan. Secara lebih kasar jenis kelamin itu ada Jantan dan ada Betina. Hanya ada dua jenis tersebut dan tidak ada setengah jantan atau setengah betina. Kalau memang ada yang laki-laki suka sama laki-laki dan perempuan suka sama perempuan tentu itu artinya ada kelainan atau penyakit. Apalagi kalau suka laki-laki dan perempuan. Miris.

Laki-laki dan perempuan seharusnya sadar akan porsinya masing-masing. Kesetaraan gender bukan berarti laki-laki dan perempuan menerima perlakuan yang sama. Tapi lebih kepada secara sama memperoleh perlakuan yang setara atas sesuai dengan jenis kelaminnya masing-masing. Pemenuhan kebutuhan antara kebutuhan laki-laki dan kebutuhan perempuan yang mestinya setara. Bukan dipukul rata harus sama.

Secara naluriah tentu saja laki-laki menginginkan perempuan. Ingin didampingi perempuan. Ingin dirawat dan dilayani oleh perempuan. Begitu juga sebaliknya perempuan ingin dilindungi laki-laki idaman. Untuk itu ada mekanisme pernikahan. Sebuah awal penyatuan dua keluarga besar kemudian melahirkan keluarga ketiga yang merupakan keluarga baru.

Setelah menikah barulah bebas laki-laki dan perempuan untuk saling menyentuh. Saling suap-suapan. Saling memberi kehangatan. Saling berbagi kasih sayang. Saling melengkapi. Saling ingat dan mengingatkan. Saling memberi kasih sayang.

Memang menyenangkan. Membayangkan situasi pacaran zaman sekarang. Seolah sudah seperti suami-istri saja. Bisa atur ini dan itu. Padahal baru pacaran, yang bulan depan, minggu depan atau bahkan besok harinya bisa putus. Se simpel inikah sebuah hubungan kasih sayang. Setelah puas mendapatkan semuanya berakhir dengan Putus.

Saya mendengar obrolan dua orang yang usianya tidak muda lagi. Sudah Kakek-kakek tua. Menurut obrolan mereka ternyata kondisi kehidupan pergaulan remaja sekarang ini sudah lama sekali dimulainya. Zaman mereka masih muda juga demikian. Di setiap dusun ada pacarnya. Bahkan ada yang lebih dari seorang pacar di dusun yang sama. Perempuan menantang laki-laki masuk kamarnya juga sudah ada di zaman mereka muda.

Bedanya zaman dulu tidak di umbar di media. Apalagi medianya media cetak, foto, video atau tersebar secara online. Cukup antar mereka saja. Belum ada judul seperti berita “Kondisi Pergaulan Remaja, Menghawatirkan” atau judul lainnya yang memandang hal seperti itu keliru.

Justru menurut orang-orang tua atau orang lama hal seperti itu wajar saja. Toh orang-orang yang sekarang tua juga pernah mengalami kehidupan masa muda. Wajar saja bila ada ketertarikan antara laki-laki dan perempuan. Wajar saja bila laki-laki selalu ingin dekat bahkan nempel dengan perempuan. Wajar juga bila perempuan nempel dengan laki-laki. Asal tidak di umbar media.

Justru tidak wajar bila laki-laki nempel sesama laki-laki. Atau perempuan nempel sesama perempuan. Itu tidak wajar dan merupakan kelainan. Penyakit masyarakat yang harus diberantas. Begitulah pendapat orang lama sehingga menurut saya cenderung tidak singkron dengan ajaran agama islam tapi justru berubah menjadi hal yang lumrah. Laki-laki memang harusnya main dengan perempuan ketika sudah dewasa. Begitu juga dengan perempuan harus main dan mengenal laki-laki ketika mulai dewasa. Yang begitu baru bisa dianggap normal oleh orang lama.

Silakan Berkomentar Menggunakan Facebook disini