#NulisRandom2017| Hari ke 22, Gangguan terbesar adalah saat mendekati garis akhir. Fokus!

Hosting Unlimited Indonesia

Tulisan ini terpikirkan begitu saja oleh saya saat membaca kiriman bang Brilliant Yotenega di grub ini Nulisbuku Community. Hanya sepintas membaca kalimat “Gangguan terbesar adalah saat mendekati garis akhir. Fokus!” langsung dengan sendirinya saya terpikirkan untuk menuliskan tulisan ini. Buru-buru saya segera ingin menuliskannya segera mungkin agar tidak lupa dan ide tersebut hilang tanpa sempat tertulis. Silakan dibaca ya,,,,.

Tentu saya paham, bahwa yang dimaksud dalam kalimat “Gangguan terbesar adalah saat mendekati garis akhir. Fokus!” Oleh bang Brilliant Yotenega adalah sangat erat kaitannya dengan pelaksanaan #NulisRandom2017 yang telah memasuki hari ke 22. Tersisa 8 hari lagi belum termasuk tulisan yang dikirimkan di hari ke 22 ini. Mendekati garis akhir, dimana peserta mendapat tantangan untuk mulai membiasakan diri dalam menulis setiap hari dalam 30 hari terhitung sejak tanggal 1 Juni 2017.

Saya coba mengaitkannya dengan kewajiban muslim menjalani ibadah Puasa di bulan Ramadhan yang juga mendekati garis akhir di tahun 2017. Hanya tersisa 4 hari lagi termasuk hari ini dari 30 hari kewajiban berpuasa di bulan Ramadhan tahun ini. Kebetulan sama juga dengan #NulisRandom2017 yang dilaksanakan setiap tahun. Bulan Ramadhan pun demikian ada di setiap tahun dalam kalender Islam dan wajib bagi setiap muslim yang telah baligh.

Mendekati akhir dari bulan Ramadhan, sudah menjadi pemandangan umum bahwa banyak orang yang tidak lagi menjalani ibadah puasa. Beberapa berhenti setelah sempat menjalani puasa dan beberapa lagi memang tidak sehari pun berpuasa. Ini tentu menjadi gangguan yang merupakan tantangan bagi mereka yang masih menjalani ibadah puasa. Seolah-olah tindakan mereka yang tidak berpuasa di bulan Ramadhan menjadi benar karena semakin banyak yang tidak berpuasa. Inilah ganguan dan “Gangguan terbesar adalah saat mendekati garis akhir. Fokus!”

Terutama bagi kami para pedagang di pasar. Melihat pemandangan seorang muslim yang tidak berpuasa adalah sesuatu yang sudah biasa. Kebanyakan dari mereka berkata “tidak tahan berpuasa”, “pecah karena panas banget”, “bekerja berat jadi tidak kuat berpuasa” dan lain sebagainya”. Begitulah yang jadi alasan pembenaran atas perbuatan mereka yang tidak menjalani kewajiban berpuasa.

Bagi saya, mereka adalah orang-orang yang kalah. Kalau tidak ada cuaca yang panas trus apalagi yang sepantasnya menjadi tantangan dalam menjalani ibadah puasa. Cuaca yang bisa saja berganti-ganti dalam sehari selama sebulan penuh adalah bagian dari tantangan dalam menjalani ibadah puasa. Tapi itu bukanlah sebuah gangguan tapi hanya sebuah tantangan yang memang sudah seharusnya ada. Kita para manusia diberi akal-pikiran justru untuk menghadapi tantangan tersebut. Baca juga: Nikmat Benar, Puasa-puasa Jualan ke Kalangan Jauh.

Gangguan terbesar adalah saat mendekati garis akhir. Fokus!. Mereka yang tidak berpuasa terus menggoda. Makan dan minum sekenyang-kenyangnya di tempat terbuka tanpa rasa malu lagi di saat-saat menjelang akhir bulan Ramadhan. Tidak ada lagi toleransi terhadap mereka yang masih berpuasa. Tidak ada toleransi. Mereka yang berpuasa justru yang harus bersikap toleran atas perbuatan mereka. Membiarkan mereka dan tidak ikut campur urusan mereka, apalagi menceramahi mereka. Itulah toleransi dewasa ini, yang benar justru harus toleran terhadap yang salah.

Mereka yang tidak berpuasa bahkan menggoda yang berpuasa secara terang-terangan untuk ikut membatalkan puasa. Memberikan pendapat-pendapat bahwa tindakan mereka benar. Karena hampir mayoritas tidak berpuasa, jadi tindakan mereka seolah-olah benar.

Kalau alasannya tidak kuat berpuasa, toh nyatanya masih pagi sudah makan dan minum. Kan artinya memang dari pagi sudah tidak ada niatan untuk berpuasa. Tidak bangun sahur kan mustahil. Padahal pedagang sejak dinihari sudah mulai sibuk. Bangun malam seharusnya sudah biasa. Tidak ada alasan tidak puasa karena telat makan sahur sehingga tidak kuat puasa. Parahnya mereka tidak bertoleransi terhadap yang berpuasa. Miris. Parah. Memaksa mereka yang berpuasa untuk bertoleransi terhadap yang tidak puasa. Miris. Parah.

“Gangguan terbesar adalah saat mendekati garis akhir. Fokus!”. Benar sekali yang ditulis oleh bang Brillian Yotenega. Selain menghadapi gangguan dari makin banyak mereka yang tidak berpuasa, mereka yang berpuasa juga menghadapi tantangan dari dalam diri untuk ikut tidak berpuasa. Hari-hari terakhir bulan Ramadhan, puasa semakin berat. Cuaca biasanya kian panas. Jelang lebaran biasanya pasar jadi lebih ramai dari biasanya dan secara otomatis pedagang jadi lebih sibuk. Lebih sibuk berarti juga lebih capek, lelah dan letih. Kondisi kepayahan inilah yang menjadi tantangan tambahan untuk menjalankan ibadah puasa. Fokus pedagang cari uang, fokus pembeli adalah berbelanja kebutuhan lebaran. Berdesak-desakan dan akhirnya tidak kuat berpuasa. Atau bahkan memang sudah tidak berpuasa dari pagi. Miris.

Fokus. Tujuan utama di bulan Ramadhan adalah saatnya menjalani ibadah puasa, jadi hal lainnya adalah gangguan yang merupakan tantangan yang seharusnya di atasi dan disingkirkan. Jika memang aktivitas terlalu berat dirasakan cenderung akan mempengaruhi kualitas puasa, dan dikhawatirkan akan membuat puasa terganggu (batal) maka pilihan yang seharusnya diambil adalah dengan mengurangi aktivitas. Bukan sebaliknya mengurangi puasa. Puasa ini adalah wajib sehingga harus di dahulukan di bulan Ramadhan.

Yang terjadi justru sebaliknya, pedagang berburu rejeki di bulan Ramadhan tapi tidak puasa. Pembeli pun sama berburu kebutuhan keluarga jelang lebaran tapi tidak puasa. Fokus mereka sudah beralih pada lebaran dan mengesampingkan bulan Ramadhan yang akan segera usai.

Inilah kebenaran bahwa “Gangguan terbesar adalah saat mendekati garis akhir” adalah nyata. Fokus pada puasa adalah jawaban untuk mengatasi gangguan jelang akhir tersebut. Sama dengan #NulisRandom2017, para peserta diharapkan untuk terus fokus dalam menyelesaikan tantangan menulis setiap hari selama 30 hari.

Alhamdulillah hingga hari ini saya masih fokus berpuasa. Saya memilih berpuasa dengan tujuan mengurangi dosa. Puasa bagi saya adalah ibadah yang paling mudah dikerjakan. Minimal cukup menahan lapar dari terbit fajar hingga terbenamnya Matahari. Sambil hati-hati dalam menghindari hal-hal yang membatalkan puasa. Cukup demikian saya bisa tahan sebulan penuh berpuasa. Semoga Allah berkenan mengurangi dosa-dosa saya selama bulan-bulan lainnya. Aamiin. Saya sadar bahwa dengan menjalankan kewajiban berpuasa pun belum tentu saya bisa masuk surganya Allah. Tidak ada makhluk-Nya yang bisa memastikan itu. Bahkan dari 30 hari puasa yang akan saya jalani, belum tentu semuanya diterima oleh Allah. Manusia hanya bisa berusaha mengurangi salah dan dosa. Allah lah yang menentukan. Menurut saya jelas saya berada di depan mereka yang tidak berpuasa. Tapi dihadapan Allah semua makhluk sama. Tidak ada kepastian untuk itu. Allah lah yang menentukan.

Sambil berpuasa saya pun tetap berusaha produktif dalam menulis. Sebelum ikut tantangan #NulisRandom2017 saya juga ikut meramaikan #RamadhanProduktif. Saya menuliskan apa saja yang bisa saya tulis setiap harinya. Ya saya usahakan setiap hari meskipun pada akhirnya saya sempat terlewat juga. Setidaknya saya telah berusaha, karena ternyata menulis itu memang susah. Sambil jualan tetap saya usahakan sambil menulis. Bagaimana susahnya? Bayangkan saja susahnya dikali 2. Saya sering kehilangan ide yang ingin saya tulis saat sedang melayani pembeli. Atau setidaknya saya kesulitan dalam menemukan kata-kata yang pas dibuatnya. Itulah tantangannya. Dan saya ingin menikmatinya seutuhnya.

Stay to Fokus ☺

Silakan Berkomentar Menggunakan Facebook disini