#NulisRandom2017| Hari Ke 8, Ketika Dia yang kusuka Sudah Punya Calon

Hosting Unlimited Indonesia

Sebuah mini cerpen yang terinspirasi dari kisah nyata. Sudah lama saya ingin menuliskan ini. Sudah telat momentumnya. Saya ingin memastikan yang tertulis enak untuk dibaca. Atas alasan itulah saya menundanya.
Saya ingin memulainya dengan sebuah puisi.

Aku menyukaimu.

Memang benar Aku menyukaimu.
Sangat menyukaimu.
Tapi hanya sebatas suka.
Aku tau rasa ini tak boleh ada.
Aku yang saat ini belum bisa memikirkan hal yang indah-indah bersamamu.
Tapi aku menyukaimu.

Aku berserah diri atas segalanya.
PadaNya sang pemilik cinta.
Segala keputusanNya akan aku terima.
Bahagia bila ditakdirkan bersama.
Ikhlas bila tidak bisa bersama.

Ya, Dia sudah punya calon. Akhirnya saya menerima kata-kata seperti itu darinya.
“Lah ado calon aku kak.”
“Doain bae.”
Begitulah kata-katanya. Saya mencoba turut senang dan tenang. Untung kalimat itu saya terima dari WA. Saya mungkin tidak akan bisa berkata apapun bila mendengarkannya secara langsung. Untung saya hanya membacanya lewat aplikasi WA.

Ada kejadian unik yang terjadi. Sudah lama saya tidak menerima kabar dari dia. Komunikasi di antara kami memang sempat terputus sejak aplikasi WA tidak bisa diakses di hape saya. Hingga kemudian tiba-tiba aplikasi WA bisa kembali digunakan di hape saya. Orang pertama yang saya hubungi adalah dia. Memang terakhir kali aplikasi WA saya gunakan untuk berkomunikasi dengan dia.

Saya: “Bener kan hahaha”
“Calon mantu”
Dia: “Lah ado calon aku kak.”
“Doain bae.”
Ternyata hanya untuk membaca kalimat itu. Sakitnya tuh disini, nunjuk hati. Kalimat itu sebenarnya bukan untuk saya. Sejak awal saya memang ikhlas jika tidak berjodoh dengannya. Ada hati lain yang juga mungkin terluka. Orang lain yang saya tau begitu mendambakan punya menantu sepertinya. Yang pasti bukan orangtua saya.

Sebagai teman saya senang. Saya turut senang karena seorang teman saya telah memiliki calon pendamping. Senang dan turut bahagia. Memang sejak awal kita hanya teman. Meski kemudian perasaan itu muncul begitu saja. Perasaan yang seharusnya tidak pernah ada.

Tidak seperti saya yang belum berani. Sang calon memang jauh lebih serius. Saya memang belum mampu menghalalkan. Belum siap lahir batin untuk menghalalkan. Karena itu lebih baik jika perasaan itu tidak pernah ada. Biar saja terpendam dan terlupakan.

Saya percaya atas kuasa Allah. Meski saya bukan muslim yang taat sepenuhnya. Saya percaya setiap manusia terlahir sudah ditentukan pasang-pasangannya masing-masing. Saya yakin bahwa Yang sudah tertulis untukmu tidak akan tertulis untuk orang lain. Saya juga percaya Allah punya banyak cara untuk menyatukan yang berjodoh begitupun memisahkan yang tidak berjodoh. Lahir-mati, rezeki & jodoh adalah rahasia Allah. Hanya Allah yang MAHA MENGETAHUI SEGALANYA, MAHA KUASA ATAS SEGALA SESUATU. Kita sebagai makhluk ciptaan Allah hanya boleh berusaha tanpa berhak protes atas hasilnya. Itulah takdir ketetapan Allah.

Semuanya sudah diatur oleh Allah. Kita tidak pernah tahu dengan siapa kita berjodoh.
#NulisRandom2017.

Silakan Berkomentar Menggunakan Facebook disini