Sebuah Perjuangan, Mungkin?

Hosting Unlimited Indonesia

Hari ini aku melakukan tindakan paling bodoh didunia menurutku. Memberikan hadiah kepada seorang wanita yang bukan hakku.

Ya, tulisan ini kubuat pertama kali hari Kamis, 7 September 2017 sambil menemaninya (lebih tepat menungguinya). Hari dimana ia menjalani ujian Komprehensif untuk meraih gelar sarjana. Entah kenapa tidak kunjung usai sepertinya. Beberapa bagian dari tulisan ini kutulis dalam beberapa catatan hari-hari sebelumnya.

Entah mengapa?
Entah apa yang membuat aku seberani ini. Yang aku tau, aku ingin melakukannya. Hanya ingin melakukannya. Tanpa ada alasan mengapa.

Karma
Sebuah pembalasan mungkin, atau bisa juga sebuah karma. Ya, karma. Bagiku sikapnya yang demikian itu bukanlah tanpa alasan. Salah satunya mungkin adalah egoku yang dulu amat sangat tinggi.

Keramahannya dulu tidak pernah mendapat sambutan yang pantas dariku.

Mungkin dia berpikiran bahwa dia hanyalah rencana cadangan. Ya, bisa jadi begitu. Mengingat yang lain sudah tidak ada lagi sekarang.

Yang aku tau, aku hanya harus berjuang. Memperjuangkan apa yang dulu aku abaikan. Sesuatu yang hingga kini masih tidak ku ketahui arah dan tujuannya. Tidak tentu arah. Aku tidak tahu.

Hanya ingin terus berjuang

Aku bahkan mengantarnya pulang tanpa sepatah katapun. Sepanjang jalan yang kupir seharusnya bisa kunikmati dengan senyuman. Serta canda dan tawa. Tapi tidak.

Kupikir lagi dia tidak akan bahagia. Kutunda dulu niatan ku itu.

Sepanjang jalan aku memilih fokus pada jalanan yang mau tidak mau syukurlah selalu tidak mulus. Aku berusaha mengatur kenyamanan menghindari lubang-lubang jalan yang kadang tetap tidak bisa terhindarkan.

Semua berubah saat terjadi tegur sapa lagi

Kemarin-kemarin ingin ku tak lagi meneruskan komunikasi diantara kita. Aku ingin melepaskan diri dari kebaperan yang terjadi.

Entah ia sadar ataukah tidak saat akun facebook dan line miliknya aku blokir.

Entah ia sadar ataukah tidak bahwa sikapnya tempo hari menurutku sudah keterlaluan dan membuatku kesal.

Seharusnya kita tidak bertegur sapa lagi.

Aku hanya ingin mengujimu, apa kau akan menyapaku lebih dahulu. Ataukah kita memang tidak akan bertegur sapa kembali lagi. Mungkin bertegur sapa bagimu biasa namun tidak bagiku.

Yang pasti itu terserah kamu.

Aku agak heran saat kau masih menghubungiku. Bukankah seharusnya kau tidak membutuhkan aku lagi.

Mungkin saja aku spesial baginya. Setidaknya begitulah halusinasi yang selalu bergentayangan dalam pikiranku. Meski hal itu mungkin saja biasa menurutnya.

Mungkin aku saja yang memandang berlebihan. Seolah aku berhak memilih. Kenyataanya aku selalu ketinggalan.

Agak aneh, dulu ia tidak terlihat cantik dimata ini. Mungkin karena mataku telah dibutakan cinta yang lalu. Sehingga tidak lagi pernah menatap yang lain sejak tamat SMA.

Lama-lama ia berhasil membuat aku menoleh ke arahnya. Ia seperti tidak pernah takut atas tatapan dingin nan kejam ini. Sebuah tatapan yang cukup membuat senyum manis wanita berubah jadi kecut.

Dialah adik tingkat yang paling dekat denganku. Tak ada yang lain sampai aku percaya memberikan pasword web akademik milikku agar ia bisa cek nilai ku.

Dia menghibur di waktu senggangku menjalani Kkn tempo hari. Entah mengapa dia mengirimkan karakter dirinya yang kemudian kubalas dengan hal yang serupa. Cukup lucu dan membuatku terhibur.

Dialah adik tingkatku yang paling dekat denganku. Dan dia seorang wanita. Itu artinya aku harus menjaga jarak. Sejauh yang aku bisa.

Sempat terpikir mungkin aku spesial baginya. Ternyata sepertinya tidak.

Tanpa sadar aku telah tertarik. Semakin hari semakin tertarik. Sulit untuk diakui tapi, itulah kenyataannya. Aku tertarik pada lebih dari satu wanita.

Masalahnya adalah apa yang ia pikir tentangku. Apakah sama?. Mungkin sama, ia pun juga punya orang lain.

Yang kulakukan bukanlah perjuangan. Aku belum pernah benar-benar berjuang. Sehingga sadar ia telah jadi milik orang lain.

Sebuah perjuangan, kebodohan, atau wujud bentuk keputusasaan, entah yang mana.

Silakan Berkomentar Menggunakan Facebook disini